18 Agustus 2009

Guru dan Murid

Ini waktu saya mengajar di kelas 4 SDN Tigajuru 1. Keliling kelas dan memeriksa setiap tugas murid jadi hal yang menyenangkan :D

***
Saya suka membaca seperti kamu semua dan saya mempunyai beberapa buku favorit. Dua di antara buku favorit saya itu mempunyai tema yang sama tentang pendidikan. Kedua kisahnya juga berasal dari negara yang sama, yaitu Jepang di masa lalu walaupun dengan setting tahun yang berbeda dan dari sudut pandang yang berbeda. Totto-chan dan Botchan.

Totto-chan melihat pendidikan dari kacamata seorang murid. Saya ingat pernah membaca nukilan cerita ini dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia saya saat SMP. Tahun 2005 saya baru menemukan buku ini, teringat oleh judulnya yang unik saya pun membeli buku ini.

Seperti yang saya perkirakan, saya terkesan dengan ceritanya. Sebuah kisah nyata yang ditulis Tetsuko Kuroyanagi tentang sebuah sekolah dasar bernama Tomogakuen dengan setting cerita sebelum Perang Dunia II. Seperti Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Kuroyanagi, si Totto-chan, mempersembahkan buku ini untuk kepala sekolah sekaligus guru SD-nya, Sosaku Kobayashi. Pendidikan yang diajarkan Kobayashi-sensei unik karena beliau sangat memahami karakter tiap anak didiknya sehingga membuat Totto-chan terkesan. Dengan caranya, Kobayashi-sensei memancing kretivitas dan memadukannya dengan karakter tiap anak sehingga cara pendidikannya terkesan “tak lazim” bagi kebanyakan sekolah.

Buku favorit saya selanjutnya adalah Botchan. Botchan ini melihat pendidikan dari sudut pandang seorang guru. Walaupun kisahnya fiksi, konon Botchan menjadi kisah klasik yang tetap menjadi favorit masyarakat Jepang hingga masa kini. Saya tertarik dengan karakter utama tokoh cerita ini yang memiliki nama panggilan kesayangan Botchan. Dengan sifatnya yang jujur, keras kepala dan selalu memegang prinsip ia menjadi seorang guru di sebuah tempat terpencil di Jepang. Kisah konflik dengan sesama guru maupun murid-muridnya dan perjuangan Botchan di tempat asing itulah yang menjadi kisahnya. Cerita ini ditulis sederhana dengan kalimat-kalimat humoris gaya Jepang oleh Natsume Soseki.

Kedua kisah dalam buku itu kemudian seperti saya hadapi sendiri saat saya KKN di sebuah desa bernama Tigajuru. Karena KKN saya bertema PBA (Pemberantasan Buta Aksara), ada program “menjadi guru” di mana saya mendapat jatah mengajar Sejarah / IPS untuk kelas 4 dan 5 SD. Saya yang “terbiasa” menjadi murid dan memandang semuanya dari sudut pandang seorang murid, tiba-tiba harus dihadapkan pada kenyataan bahwa saya memiliki murid yang artinya sama dengan menjadi seorang “guru”!!

Saya pernah menjadi murid dan tentu pernah merasakan metode pengajaran yang tepat ataupun yang tidak enak dan membosankan dan saya ingin murid saya bisa memahami apa yang saya sampaikan dengan baik. Saat itu saya berpikir bahwa Kobayashi-sensei adalah orang yang cerdas karena dengan cara mendidiknya yang unik itulah ia mampu mengembangkan potensi muridnya.

Tidak semua murid saya patuh, tentu saja. Saya sempat kewalahan dengan beberapa murid saya yang seperti itu. Saya jadi teringat sebuah bab di mana Botchan harus menghadapi muridnya yang minta ampun bandelnya. Kesimpulannya, betapa sulitnya menjadi seorang guru sekaligus betapa hebatnya mereka -para guru- itu. Saya mengalami hal yang bagi saya luar biasa. Setiap saya melihat murid-murid saya, timbul keinginan ingin membuat mereka lebih pandai dan sukses dalam hidupnya kelak dan saya bahagia ketika murid saya yang bandel pun ternyata bisa juga bersikap manis dan patuh.

Setelah mengalami semuanya sendiri saya benar-benar salut dan berterima kasih pada guru-guru saya. Mungkin pernah ada saat kala mereka sangat ingin menjitak kepala saya ya? Hahaahaahaa….


Tidak ada komentar:

Posting Komentar