Sepanjang usia saya yang dua puluh tahun ini, saya menemukan sebuah pertanyaan yang paling membuat malas untuk saya jawab. Entah sudah orang keberapa yang menanyakan mengapa saya kuliah di jurusan ini, dan ujung-ujung dari pertanyaan pembuka itu adalah : memang kalau kuliah di jurusan itu kamu mau jadi apa??
Ya Tuhan, memang saya tahu saya akan jadi apa tahun depan atau beberapa tahun lagi, selain tetap menjadi manusia tentunya?! Masih belum puas, orang-orang itu kemudian akan berkata, kan lebih bagus kalau kuliah di ekonomi, akuntansi, kedokteran, arsitektur, X,Y, Z, … yang kerjanya lebih jelas!! Wah, jujur saya tidak habis pikir dengan orang-orang ini. Apa dunia sudah begitu sempitnya hingga pekerjaan di dunia ini hanya ada dokter, akuntan atau arsitek?!
Sekian semester menerima pertanyaan-pertanyaan seperti itu, saya hampir kehabisan alasan dan jawaban, ya pilihan terakhir saya hanya tersenyum, membiarkan mereka puas dengan menghibur diri saya sendiri, asal mereka cepat pergi dari hadapan saya, hahaha…
Sebenarnya saya sendiri juga tidak begitu mengerti, mengapa memilih jurusan Ilmu Pemerintahan dalam formulir SPMB beberapa tahun lalu. Setelah membuat orang di sekitar saya geleng-geleng kepala dengan keinginan saya lewat jalur SPMB, sekali lagi mereka terheran-heran dengan pilihan Ilmu Pemerintahan ini. Kasarnya, mereka heran, ada ya jurusan itu?! Dari dua jurusan yang diterima, saya harus memilih salah satu dan saya tidak ingat, dalam keadaan sadar atau tidak saat saya memilih jurusan yang sekarang jadi bidang yang saya pelajari sekian semester ini, hahaha. Menyesal? Entah, saya lebih memilih kalimat : turut heran kenapa Pemerintahan ya, untuk menggambarkan keadaan ini, hahaha.
Namun, keheranan saya seolah menguap ketika seorang dosen saya yang baru pulang dari Korea (tugas belajar 5 tahun) bernama Pak Yuwanto, berkata dengan lantang dalam kuliah Studi Asia Timur beberapa waktu lalu. Beliau berkata : “Jangan Anda kira, Anda berada di tempat ini karena suatu kebetulan. Jika Anda orang yang beriman, Anda harus percaya bahwa tak ada yang kebetulan di dunia ini. Tahu apa sebabnya? Tuhan pasti punya misi besar dengan menempatkan Anda berada di sini. Suatu hal yang bahkan mungkin tak pernah terlintas di benak Anda."
Saya tertegun dengan kalimat pembuka beliau saat mengawali kuliah itu. Saya memikirkan ulang hal yang sudah saya lalui. Satu kesimpulan yang tak terbantahkan dari kalimat itu adalah tak ada manusia yang lebih tahu dari Tuhan. Hanya Tuhan yang Maha Tahu. Maka sungguh sangat sombong jika berkata bahwa kuliah di jurusan A akan menjadi A, kuliah di jurusan B akan menjadi B. Apakah orang-orang yang berkata demikian adalah orang-orang yang lebih mengetahui dari Tuhan, hingga mereka berhak ‘menentukan’ masa depan orang lain?! Siapa yang bisa menjamin jika kuliah di akuntansi, setelah lulus akan bekerja sebagai akuntan?!
Saya jadi ingat masa kecil saya, ketika guru senang sekali melempar pertanyaan, akan jadi apa jika besar nanti? Jawaban menjadi presiden, dokter, insinyur sudah pasti ada. Seolah pekerjaan yang anak-anak tahu hanya itu saja. Saya pikir, dari “kebudayaan memandang” seperti itulah, orang jadi cenderung untuk meremehkan pekerjaan lain yang dianggap tidak hebat. Akan terasa lucu jika ada anak kecil yang ditanya apa cita-citanya menjawab, ingin menjadi nelayan, penulis, petani atau pelukis. Ukuran materi selalu dijadikan alasan banyak orang untuk buru-buru menilai pekerjaan ‘semacam itu’.
Tapi saya percaya, setiap pekerjaan memiliki peranan yang sama besar untuk membangun negara ini (jika membangun bangsa dan negara dijadikan tujuan). Toh, menjadi apapun nanti, kembali saya percaya, setiap orang pasti punya peranan di dunia ini. Jangan pernah persempit pikiran kita bahwa hanya orang-orang yang menjadi arsitektur, akuntan, dokter atau pekerjaan-pekerjaan hebat lainnya itu hanya satu-satunya yang berguna dan berperan untuk negara ini.
Jalan di depan kita toh selamanya akan bercabang. Tuhan selalu menyediakan pilihan-pilihan dan konsekuensi dari setiap pilihan kita. Dan dengan cara yang luar biasa pula, Tuhan membimbing kita menuju suatu tempat yang memang Ia kehendaki. Jadi tak usahlah Anda atau saya merasa heran, kecewa, sedih atau marah ketika kita berada di suatu ‘tempat’ yang tak kita kehendaki atau tempat yang ‘tak lazim’ bagi banyak orang. Cukup penuhi diri dengan keyakinan bahwa Tuhan punya misi besar dengan menempatkan kita berada di situ, hanya kita yang belum tahu apa.
Semangat! :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar