24 Februari 2011

Pertama Memasak Itu....

Jangan membayangkan memasak yang saya maksud ala Farah Quinn dan kawan-kawannya ya. Ini pengalaman pertama saya di urusan dapur saat umur saya masih balita koq. Ah jangan bayangkan juga pakai kompor gas, mixer, oven dan perangkat lain sisanya. Ayolaaah...saya masih balita waktu itu dan modernisasi masih belum canggih kala itu.

Saya menghabiskan masa kecil saya yang penuh kebahagiaan (sejauh yang saya ingat ^^) di sebuah desa di kaki bukit di Kebumen. Zaman itu, desa nenek saya sepertinya belum terjamah listrik pula. Rumah budhe (kakak dari ibu) ketika itu juga masih satu dengan rumah nenek yang besar dan luas. Sudah jadi kebiasaan, jika nenek dan anak-anak perempuannya (termasuk ibu) banyak menghabiskan waktu pagi hari dengan urusan dapur. Hal itu sangat menarik bagi saya yang suka memperhatikan dari pintu dapur sebelum sibuk bermain sendirian. Dapur penuh asap dari alat-alat aneh (yang kemudian saya tahu namanya dandang), suara "duk...duk...duk..." dari alu dan cerita-cerita yang mengalir di dapur menjadi sangat menyenangkan.

Semua gerak tangan yang begitu gesit mengupas, memotong terlihat sangat seru. Sampai suatu ketika saya tiba-tiba ingin memasak. Saya bilang begitu pada seorang budhe saya di suatu siang. Senang rasanya ketika budhe membolehkan. Saya kira kemudian saya akan mengupas kentang atau memotong wortel seperti yang sering saya lihat, tapi ternyata budhe menyuruh saya memetik daun so (daun melinjo muda) yang pohonnya tumbuh di halaman rumah nenek. Saya buru-buru berlari ke halaman dan memetik beberapa daun muda yang kecil dengan riang. Setelah kembali ke dapur, budhe telah menyiapkan sebuah cawan kecil dari tanah liat di atas tungku yang kayu bakarnya sudah menyala.

Budhe meminta saya menuangkan beberapa gelas air ke cawan dan menunggu air itu sampai mendidih. Setelah mengetahui definisi mendidih dari berkali-kali membuka tutup cawan dan bertanya terus sampai budhe bosan, akhirnya kesempatan untuk memasukkan daun so itu datang. Proses selanjutnya menunggu daun so layu dan menaburkan garam, saya jalani dengan bangga. Ini namanya memasak, begitu kata saya dalam hati.

Ya, masakan pertama dalam hidup saya, "sayur daun so" terhidang dengan penuh kebanggaan di meja makan nenek siang itu. Saya pergi ke dapur nenek di sebelah dan pamerkan sayur itu tapi tidak ada yang berminat makan bersama. Setelah mas-mas saya pulang sekolah (mereka saudara) saya tawarkan juga hasil karya saya. Jawabannya, "Hah sayur so? Mas sudah makan," atau malah terang-terangan menolak. Ya sudah saya ambil piring saya sendiri dan makan sayur karya saya itu dengan lahap yang aneh. Aneh karena rasanya sangat biasa (lebih mirip tidak enak dijadikan lauk makan) tapi berusaha senang karena buatan sendiri.

Hahaha.....beberapa tahun kemudian kalau ingat pengalaman pertama memasak itu saya jadi berpikir ulang, apa itu benar-benar namanya memasak ya? =_=;

Tidak ada komentar:

Posting Komentar